Gagasan Utama Surat Filemon
Surat Filemon adalah salah satu dari empat surat penjara dan merupakan tulisan terpendek dari Rasul Paulus. Surat ini ditujukan pertama-tama kepada Filemon, seorang Kristen non-Yahudi dan pemilik budak di Kolose, dan kedua kepada jemaat yang berkumpul di rumahnya. Surat ini merupakan permohonan yang penuh gairah dan bersifat pribadi, di mana Paulus meminta temannya, Filemon, untuk menerima Onesimus kembali, bukan sebagai budak yang melarikan diri, melainkan sebagai “saudara terkasih . . . di dalam Tuhan” (ay. 16). Dalam kedaulatan Allah, Onesimus melarikan diri ke Roma, di mana ia bertemu Paulus (yang sebelumnya membimbing Filemon kepada iman) dan menjadi seorang Kristen. Saat mengembalikan Onesimus kepada Filemon (langkah yang berbahaya bagi seorang budak yang melarikan diri), Paulus berargumen bahwa Injil telah mengubah sifat hubungan mereka: ikatan bersama mereka di dalam Kristus kini melampaui identitas sosiobudaya mereka sebagai budak dan tuan. Surat ini menggambarkan bagaimana Injil dapat mengubah hubungan kita yang nyata, dan terkadang sulit.
TOPIK: Mengapa Paulus menulis kepada temannya, Filemon?
PENJELASAN: Untuk memohon kepada Filemon—“atas dasar kasih” (ay. 9)—agar menerima Onesimus yang kembali, bukan sebagai budak yang melarikan diri, melainkan sebagai “saudara terkasih . . . di dalam Tuhan” (ay. 16).
GAGASAN EKSEGETIS: Paulus menulis kepada temannya, Filemon, untuk memintanya—atas dasar kasih—agar menerima Onesimus yang telah kembali, bukan sebagai budak yang melarikan diri, melainkan sebagai saudara terkasih di dalam Tuhan.
GAGASAN HOMILETIS: Yesus Kristus mengubah identitas dan hubungan kita.
Memilih Bagian-Bagian untuk Khotbah dan Pengajaran dalam Surat Filemon
Karena Surat Filemon hanya terdiri dari dua puluh lima ayat (sekitar 335 kata dalam bahasa Yunani aslinya), surat ini dapat dikhotbahkan atau diajarkan dalam satu sesi. Namun, kitab ini dapat dibagi menjadi dua bagian yang koheren: (1) salam (ay. 1–3) serta ucapan syukur dan doa (ay. 4–7), dan (2) permohonan Paulus (ay. 8–21), beserta permohonan penutup, salam, dan berkat (ay. 22–25).
Ayat-Ayat yang Sulit
Masalah perbudakan tidak dapat dihindari ketika seseorang mengkhotbahkan atau mengajarkan surat ini. Mengingat sejarah kelam Amerika Serikat terkait perbudakan dan meningkatnya perdagangan manusia di seluruh dunia belakangan ini, pendeta sebaiknya mendekati Surat Filemon dengan kerendahan hati, kepekaan, dan kejelasan moral.
Perbudakan pada abad pertama tidak sepenuhnya sama dengan bentuk-bentuk perbudakan di zaman modern. Dalam lingkungan Paulus, perbudakan lebih meluas: “Perkiraan menunjukkan bahwa 85–90 persen penduduk Roma dan Semenanjung Italia adalah budak atau keturunan budak.” Selain itu, budak “diberikan banyak hak” dan “dapat mengharapkan pembebasan setidaknya saat mereka mencapai usia tiga puluh tahun,” serta banyak budak “menjabat sebagai pelayan rumah tangga yang dipercaya, guru, pustakawan, akuntan, dan pengelola perkebunan.”1
Namun, hal itu bukan berarti perbudakan semacam itu dapat diterima. Meskipun Perjanjian Baru tidak secara langsung mengutuk maupun membenarkan praktik ini, perbudakan itu, dan tetap, secara moral menjijikkan. Paulus secara halus melemahkan institusi perbudakan ketika ia meminta Filemon untuk mendefinisikan ulang hubungan tersebut: untuk mengampuni Onesimus dan menerimanya sebagai saudara, bukan sebagai budak pemberontak, karena identitas barunya dalam Kristus. Dengan demikian, “fokus Paulus adalah pada transformasi hubungan pribadi di dalam sistem tersebut.”² Kritik Paulus terhadap perbudakan lebih bersifat tidak langsung daripada langsung, lebih bersifat relasional daripada institusional (dan mungkin lebih efektif karena alasan itu; bandingkan Kol. 4:9).
Perspektif Budaya dan Penerapan
Setelah masalah perbudakan ditangani dengan tepat, hanya ada sedikit hal historis atau budaya yang perlu dibahas oleh komunikator.
Surat ini menawarkan berbagai poin penerapan:
- Injil mendefinisikan identitas kita: manusia melihat seorang budak; Allah melihat seorang anak yang dikasihi dan saudara yang “berguna” (ay. 11).
- Injil mengubah hubungan kita: kasih Kristus memotivasi orang Kristen untuk saling mengampuni dan mencari rekonsiliasi ketika hubungan terputus (lih. Mat. 5:23–24; 18:15–17). Orang Kristen juga akan bertindak sebagaimberikan kasih karunia kepada semua.
