6 Kenyakinan Berkhotbah dan Khotbah

Untuk melakukan pekerjaan yang tidak mudah sebagai pengkhotbah yang alkitabiah, para pria dan wanita dalam pelayanan harus berkomitmen pada kebenaran-kebenaran tertentu.

(1) Alkitab adalah Firman Allah. Seperti yang dikatakan oleh Agustinus, “Ketika Alkitab berbicara, Allah berbicara.” Ini adalah keyakinan bahwa jika saya benar-benar memahami suatu bagian dalam konteksnya, maka apa yang saya ketahui adalah apa yang Allah ingin sampaikan. (Saya tidak percaya bahwa banyak kaum Injili maupun liberal benar-benar mempercayai hal ini.)

(2) Seluruh Alkitab adalah Firman Allah. Bukan hanya Roma tetapi juga Imamat, bukan hanya Efesus tetapi juga Ester. Bukan hanya bagian-bagian yang “panas” tetapi juga yang “dingin.”

(3) Alkitab mengesahkan dirinya sendiri. Jika orang-orang dapat terpapar pada pemahaman Kitab Suci secara teratur, maka mereka tidak membutuhkan argumen tentang kebenaran Alkitab. Oleh karena itu, seorang pendengar atau pembaca tidak harus menerima dua komitmen pertama sebelum Allah dapat bekerja dalam hidup seseorang melalui Firman-Nya.

(4) Hal ini membawa pada pendekatan khotbah “Beginilah firman Tuhan.” Saya tidak sedang merujuk pada metode homiletik tertentu, tetapi pada kerinduan untuk membuka Kitab Suci sehingga otoritas pesan itu bertumpu pada Alkitab. (Ini bertentangan dengan semangat anti-otoritas dalam masyarakat kita.)

(5) Seorang pelajar Alkitab harus berusaha memahami maksud penulis Alkitab. Pertanyaan pertama adalah, “Apa yang ingin disampaikan penulis Alkitab kepada pembaca pada zamannya? Mengapa?” Teori Reader Response yang dianut oleh banyak sarjana sastra saat ini tidak dapat digunakan dalam studi Alkitab. Sederhananya, “Alkitab tidak dapat berarti sesuatu yang tidak pernah dimaksudkannya.”

(6) Alkitab adalah kitab tentang Allah. Ini bukan sekadar buku religius yang memberikan nasihat tentang “jawaban” bagi pernikahan yang bahagia, seks, pekerjaan, atau menurunkan berat badan. Meskipun Kitab Suci berbicara tentang banyak hal tersebut, yang terutama adalah tentang siapa Allah itu dan apa yang Ia pikirkan serta kehendaki. Saya hanya dapat memahami realitas jika saya memahami siapa Dia dan apa yang Ia kehendaki bagi ciptaan-Nya dan dari ciptaan-Nya.

(7) Kita tidak “membuat Alkitab menjadi relevan”; kita menunjukkan relevansinya. Kebenaran itu relevan seperti air bagi orang yang haus atau makanan bagi orang yang lapar. Iklan modern menciptakan kebutuhan yang sebenarnya tidak ada untuk menjual produknya.