Kitab Yudas mungkin merupakan kitab yang paling terabaikan dalam Perjanjian Baru. Nada bicara penulis yang keras serta kutipan dari sumber-sumber non-Alkitabiah telah membuat banyak pengkhotbah enggan mengkajinya. Namun, pesannya adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh kita dan jemaat kita. Para influencer yang sombong dan bejat di dalam gereja masih menjadi ancaman, dengan menggunakan kasih karunia sebagai dalih untuk merongrong standar Alkitabiah mengenai seksualitas.

Masalah: Bagaimana Yudas menasihati gereja ketika diganggu oleh para influencer yang tidak bertuhan di tengah-tengahnya?

Solusi: Untuk waspada terhadap mereka dan memperjuangkan iman dengan saling melayani satu sama lain dengan penuh belas kasihan serta mempercayai Allah untuk melindungi umat-Nya.

Pesan Teks: Yudas mengarahkan gereja, ketika diganggu oleh para pengaruh yang tidak bertuhan di tengah-tengahnya, untuk waspada terhadap mereka dan memperjuangkan iman dengan saling melayani dengan penuh belas kasihan serta mempercayai Allah untuk menjaga umat-Nya.

Pesan Khotbah: Ketika orang-orang yang mengaku Kristen merendahkan kasih karunia dan mengatakan bahwa segala sesuatu diperbolehkan, gereja harus tetap berpegang pada iman dan mempercayai Allah untuk menjaga umat-Nya tetap setia.

Gagasan ini memandang doxologi sebagai bagian yang esensial dari pesan surat ini. Tergantung pada situasi (misalnya, jika jemaat sedang mendengarkan seri khotbah tentang seksualitas), seorang pengkhotbah mungkin mempertimbangkan untuk lebih spesifik dalam merumuskan gagasan utama ini, termasuk menyertakan hal-hal mengenai perilaku bejat atau pelemahan standar Allah mengenai seks.

Related Posts