Resensi Buku Populer
Judul: Preaching: Communicating Faith in an Age of Skepticism
Penulis: Timothy Keller
Penerbit: Viking (Penguin Random House, 2015)
Jumlah Halaman: ± 300
Kategori: Homiletika, Teologi Praktis, Apologetika
Pendahuluan
Latar Belakang dan Permasalahan yang Dihadapi
Timothy Keller menulis buku ini di tengah era skeptisisme modern, ketika otoritas kebenaran Alkitab dan peran khotbah publik mulai dipertanyakan. Ia mengamati dua masalah besar:
Krisis Otoritas Firman dalam Khotbah Modern.
Banyak pengkhotbah lebih mengandalkan teknik retorika, moralitas umum, atau nasihat praktis daripada otoritas Alkitab. Akibatnya, khotbah kehilangan daya ubah rohani.
Kesenjangan antara Khotbah dan Dunia Skeptis.
Di zaman pascamodern, banyak orang tidak lagi percaya pada kebenaran absolut atau otoritas gereja. Khotbah yang tidak peka terhadap konteks budaya sering dianggap tidak relevan.
Kekeliruan Teologis dalam Pemberitaan Injil.
Keller menyoroti dua ekstrem:
Legalistik: menekankan moralitas dan usaha manusia.
- Antinomian: menekankan kasih karunia tanpa transformasi hidup.
Keduanya gagal menyampaikan Injil Kristus yang sejati. - Kelemahan dalam Dimensi Rohani Khotbah. Banyak pengkhotbah sibuk mempersiapkan isi dan gaya, tetapi melupakan ketergantungan pada Roh Kudus yang memberi kuasa mengubah hati.
Solusi dan Gagasan Utama Keller
Keller tidak hanya menganalisis krisis, tetapi juga menawarkan pendekatan homiletik yang Kristosentris dan kontekstual, yang menggabungkan eksposisi Alkitab dengan pemahaman budaya dan ketergantungan pada Roh Kudus.
- Tiga Level Pelayanan Firman
Dalam pendahuluan, Keller menjelaskan tiga tingkatan pelayanan Firman:
Level 1: Percakapan pribadi antarorang percaya.
Level 2: Pengajaran dan diskusi kelompok (kelas, mentoring, tulisan).
Level 3: Khotbah publik di jemaat.
Dengan ini, ia menegaskan bahwa khotbah adalah bagian dari ekosistem pelayanan Firman yang lebih luas—namun tetap tidak tergantikan karena di dalamnya Allah berbicara kepada umat-Nya secara kolektif.
- Ciri Khotbah yang Baik
Dalam Prologue: What Is Good Preaching?, Keller menekankan bahwa perbedaan antara khotbah yang baik dan besar bukan hanya pada keahlian retorika, melainkan pada pekerjaan Roh Kudus di hati pendengar.
Namun, pengkhotbah tetap harus melakukan dua tugas utama: Serving the Word → setia kepada teks, eksposisi yang mendalam. Reaching the People → menjangkau hati dan budaya pendengar.
- Preaching Christ from All Scripture
Inti khotbah sejati adalah memberitakan Kristus dari seluruh Kitab Suci. Keller menekankan bahwa setiap teks, baik PL maupun PB, pada akhirnya menunjuk kepada karya penebusan Kristus. Tanpa itu, khotbah hanya menjadi moralitas tanpa Injil. “You have not preached a text unless you have shown how it points to Christ.” – Tim Keller
- Preaching to the Culture and the Heart
Khotbah harus berbicara kepada dua ranah sekaligus:
Budaya – dengan mengidentifikasi dan menantang narasi dunia modern (misalnya pencarian kebebasan, otonomi, kesuksesan). Hati – dengan membawa Injil yang menembus motivasi dan penyembahan batin manusia. Keller menunjukkan bahwa Paulus dalam 1 Korintus 1–2 menjawab “idola budaya” Yunani dan Yahudi melalui salib Kristus — yang sekaligus menjadi titik konfrontasi dan titik pemenuhan bagi kerinduan manusia.
- Preaching and the Spirit
Dalam bagian akhir (In Demonstration of the Spirit and of Power), Keller menegaskan bahwa tidak ada metode yang dapat menjamin khotbah yang penuh kuasa.
Kuasa itu datang dari pengurapan Roh Kudus — yang bekerja melalui firman yang diberitakan dan hati pengkhotbah yang tunduk.
“The difference between good preaching and great preaching lies in the work of the Holy Spirit.” – Tim Keller
Nilai dan Relevansi bagi Mahasiswa Teologi
Bagi mahasiswa teologi dan penggemar homiletik, buku ini penting karena:
Menyatukan eksposisi Alkitab, teologi Injil, dan analisis budaya modern.
Menunjukkan bahwa retorika dan Roh Kudus tidak bertentangan; pengkhotbah perlu menguasai seni komunikasi tanpa kehilangan kesalehan.
Melatih pengkhotbah masa kini untuk menjadi Kristosentris, kontekstual, dan penuh kasih.
Menjadi jembatan antara teori homiletik klasik (Perkins, Calvin, Augustine) dan praktik pelayanan di dunia sekuler modern.
Kelebihan Buku
Menggabungkan eksposisi Alkitab dan pemahaman budaya modern.
Menyajikan kerangka homiletik praktis tanpa kehilangan kedalaman teologis.
Bahasa dan contoh-contohnya relevan dengan konteks pelayanan urban dan skeptis.
Disertai appendix yang memuat cara menulis khotbah ekspositori.
Keterbatasan
Beberapa bagian bersifat konseptual dan reflektif, bukan panduan langkah demi langkah.
Konteks utamanya adalah dunia Barat (urban, sekuler), sehingga perlu adaptasi untuk konteks Asia atau Indonesia.
Kesimpulan
Buku Preaching: Communicating Faith in an Age of Skepticism adalah perpaduan antara teologi Injil, seni retorika, dan penggembalaan pastoral.
Keller menolong pengkhotbah memahami bahwa khotbah bukan sekadar berbicara di mimbar, tetapi mendemonstrasikan Kristus kepada hati dan budaya dengan kuasa Roh Kudus.
“Preaching should not just inform minds but transform hearts.” – Tim Keller
