Hari 109: Kebaikan, Nyata dalam Mendengarkan

“Pada suatu waktu, kita pun hidup dalam kebodohan, ketidaktaatan, disesatkan dan diperhamba oleh berbagai nafsu dan keinginan. Kita hidup dalam kejahatan dan iri hati, saling membenci dan dibenci. Tetapi ketika kebaikan dan kasih Allah, Juruselamat kita, dinyatakan, Ia menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, melainkan karena rahmat-Nya.”
(Titus 3:3–5a)


Kebaikan, Nyata dalam Mendengarkan

Kita menunjukkan rasa hormat kepada para pendengar kita dengan mendengarkan mereka.
Khotbah yang terbaik selalu bersifat dialogis. Nasihat Yakobus untuk “cepat mendengar dan lambat berkata-kata” (Yakobus 1:19) berlaku dalam semua hubungan antarpribadi, termasuk antara pengkhotbah dan jemaat.

Seperti yang telah kita lihat, beberapa surat dalam Perjanjian Baru ditulis kepada jemaat-jemaat di kota atau wilayah tertentu karena si penulis mendengar kabar dari sana.
Mendengarkan para pendengar bukan hanya cara yang baik untuk mengenal dan memahami mereka. Ketika kita mendengarkan mereka, mereka akan jauh lebih cenderung untuk mendengarkan kita, karena mereka merasakan bahwa kita sedang berbicara dengan mereka, bukan kepada mereka, apalagi menyerang mereka.


Cara lain kita menunjukkan rasa hormat adalah dengan bersikap baik kepada semua pendengar kita.
Instruksi Paulus kepada Timotius sangat spesifik:

“Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar, dan lemah lembut terhadap orang yang menentang. Barangkali Tuhan memberi mereka pertobatan sehingga mereka mengenal kebenaran.”
(2 Timotius 2:24–25)

Menarik sekali bahwa instruksi Paulus menghubungkan niat yang baik (ramah terhadap semua orang) dengan sikap lemah lembut, dan dari sanalah bisa muncul pertobatan pada pihak yang menentang.
Kita berutang kebaikan kepada para pendengar kita. Mungkin Anda menemui orang-orang yang menentang di antara mereka yang Anda khotbahi setiap minggu. Namun kelembutan adalah salah satu cara kita menunjukkan kebaikan—bahkan kepada mereka yang menentang.


Iman ditunjukkan dengan pengharapan bahwa Tuhan akan memberikan pertobatan kepada mereka, supaya mereka dapat menerima kebenaran.
Mungkin ini terdengar tidak realistis—bagaimana mungkin orang yang tidak bertobat bisa menerima pesan Alkitab? Tapi Tuhan menggunakan firman-Nya untuk menghasilkan pertobatan.

Contohnya:
• Peringatan sederhana dari Yunus tentang hukuman Allah—yang disampaikan dengan ketaatan yang terlambat—berhasil membuat orang Niniwe bertobat dari jalan mereka yang jahat (Yunus 3:1–10).
• Tidak ada raja yang sejahat Ahab di mata Tuhan. Namun ketika ia mendengar firman Tuhan dari Elia dan merendahkan dirinya, Tuhan melihat kerendahan hati itu dan menunda hukuman yang sudah dinyatakan (1 Raja-raja 21).

Jadi, tetaplah semangat.


Tuhan, terima kasih atas kebaikan-Mu kepadaku melalui Injil dan karena Engkau telah memberikan segala sesuatu dalam Kristus.
Ketika aku mulai merasa menghakimi atau kritis terhadap para pendengarku—terutama karena hal-hal kecil dan sepele yang menggangguku—ingatkan aku akan kebaikan-Mu dan tolong aku untuk menunjukkan kebaikan itu kepada orang lain atas nama-Mu. Amin.

Related Posts