“Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.”
(1 Korintus 11:1)
“Hal ini kutuliskan bukan untuk mempermalukan kamu, tetapi untuk menegur kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi. Sekalipun kamu mempunyai sepuluh ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Sebab dalam Kristus Yesus, akulah yang telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu. Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku. Justru itulah sebabnya aku mengutus Timotius kepadamu, anakku yang kukasihi dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan mengingatkan kamu akan hidupku dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat.”
(1 Korintus 4:14–17)
Teladan Ketaatan
Puncak dari pelayanan kita kepada para pendengar adalah membantu mereka mengerti arti sesungguhnya dari mendengarkan firman. Artinya, kita sungguh-sungguh melayani para pendengar kita ketika kita membantu mereka merespons dengan ketaatan.
Suatu kali, nabi Yeremia diperintahkan untuk membeli sabuk lenan yang baru — mungkin semacam ikat pinggang yang indah dan mencolok yang dipakai di pinggang. Yeremia membelinya dan memakainya. Bahkan sebelum sabuk itu sempat dicuci, ia diperintahkan untuk menyembunyikannya di celah batu. Ketika ia kembali, sabuk itu sudah rusak total dan tidak berguna sama sekali.
Itu adalah alat bantu visual untuk menyoroti penghakiman Allah yang akan datang atas Yehuda. Perhatikan bagaimana Allah menggambarkan ketidaktaatan Yehuda:
“Bangsa yang jahat ini, yang menolak mendengarkan perkataan-Ku, yang mengikuti kedegilan hatinya dan mengikuti allah lain untuk beribadah dan sujud menyembah kepadanya, akan menjadi seperti sabuk ini, yang tidak berguna untuk apa pun! Sebab seperti sabuk melekat pada pinggang seorang laki-laki, demikianlah Aku membuat seluruh kaum Israel dan seluruh kaum Yehuda melekat kepada-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “supaya mereka menjadi umat-Ku, menjadi nama, pujian dan kehormatan bagi-Ku. Tetapi mereka tidak mau mendengar.”
(Yeremia 13:10–11, penekanan ditambahkan)
Dengan mengatakan “mereka tidak mau mendengar”, Tuhan sebenarnya sedang berkata bahwa mereka tidak menaati. Maka seruan Allah melalui Yeremia adalah: “Dengarkan dan perhatikanlah” (LAI-TB) atau “Dengarkan dan beri perhatian, janganlah congkak, sebab TUHAN telah berfirman” (Yer 13:15, NASB).
Respons yang benar terhadap firman Tuhan adalah kerendahan hati yang memimpin pada ketaatan.
Kita melayani pendengar kita ketika kita menangani firman dengan hormat, menundukkan diri kita sendiri di bawahnya, dan mengharapkan hal yang sama dari mereka (2 Tes 3:14).
Paulus memang membanggakan kelemahannya (lihat 2 Korintus), namun ia juga bersukacita atas ketaatan yang dihasilkan oleh pemberitaannya dalam kuasa Roh Kudus:
“Saudara-saudaraku, aku yakin bahwa kamu sendiri penuh dengan kebaikan, penuh dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasihati. Namun, dalam beberapa hal aku telah menulis kepada kamu dengan agak berani, untuk mengingatkan kamu karena kasih karunia yang diberikan Allah kepadaku, yaitu untuk menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Aku menjalankan tugas suci dalam pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi menjadi persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus.*
Sebab itu aku bermegah dalam Kristus Yesus dalam hal-hal yang menyangkut pelayanan kepada Allah. Sebab aku tidak berani berkata-kata tentang hal-hal yang tidak dikerjakan Kristus melalui aku untuk membawa bangsa-bangsa bukan Yahudi kepada ketaatan — oleh perkataan dan perbuatan, dengan kuasa tanda-tanda dan mukjizat, oleh kuasa Roh Allah. Demikianlah aku telah memberitakan Injil Kristus sepenuhnya, dari Yerusalem sampai ke Ilirikum.
(Roma 15:14–20)
Ketika Injil diberitakan dengan penuh — baik dalam perkataan maupun perbuatan, oleh anugerah Allah dan dalam kuasa Roh Kudus — Kristuslah yang bekerja melalui kita!
Pendengar kita taat kepada Allah, yang dalam konteks surat Roma berarti mereka percaya kepada Injil.
Mereka juga menjadi persembahan yang diterima Allah, yang dikuduskan oleh Roh Kudus yang sama yang memberi mereka hidup baru.
Pengudusan selalu melibatkan ketaatan.
Kita tidak boleh puas dengan hasil yang lebih rendah dari ini dalam pemberitaan kita.
Perhatikan bahwa Paulus tidak mengklaim bahwa ia sendiri yang melakukan semua itu — Kristuslah yang melakukannya melalui dia.
Dinamika yang sama juga tercatat dalam 2 Korintus:
“Adakah kami mulai memuji diri kami lagi? Atau perlu juga kami membawa surat pujian kepada kamu atau dari kamu? Kamu adalah surat pujian kami, yang tertulis dalam hati kami, yang dikenal dan dibaca oleh semua orang. Kamu menunjukkan bahwa kamu adalah surat Kristus, hasil dari pelayanan kami, yang ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh hati manusia.”
(2 Korintus 3:1–3)
Hidup orang-orang Korintus yang telah diubah adalah bukti dari karya Roh Kudus, sekaligus buah dari pelayanan Paulus.
Kita melayani para pendengar kita ketika kita membantu mereka sungguh-sungguh mendengar suara Allah dan melakukan apa yang semestinya dilakukan ketika Allah berbicara — yakni taat.
Tuhan Yesus, setiap kali aku berkhotbah, tolong aku untuk mendengar apa yang Engkau katakan kepadaku melalui teks yang aku uraikan — bukan hanya untuk mendengarnya, tetapi supaya dengan sungguh-sungguh mendengar, aku juga menaati. Amin.
