“Tetapi apabila aku berpikir: ‘Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman-Nya lagi,’ maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah menahannya, aku tidak sanggup.”
(Yeremia 20:9)
Gairah dan Pengorbanan
Kita melayani pendengar kita dengan menjadi penuh semangat dan juga logis.
Para rasul secara konsisten berdialog dan berargumentasi demi iman, tetapi mereka tidak melakukannya dengan cara yang dingin dan terpisah.
Mereka menyampaikan pesan kebenaran yang bernyala-nyala seperti api.
Hidup mereka, terutama kesediaan mereka untuk menderita demi Injil, menjadi bukti nyata dari apa yang mereka khotbahkan.
Seperti yang dikatakan para Puritan, cara penyampaian mereka selaras dengan isi pesan mereka.
Lihatlah contoh Saul (Paulus) di Yerusalem tak lama setelah pertobatannya:
Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul. Ia menceritakan kepada mereka, bagaimana Saul telah melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan telah berbicara kepadanya dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus.
Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan. Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka berusaha membunuh dia. Ketika saudara-saudara seiman mengetahui hal itu, mereka membawanya ke Kaisarea dan dari situ mengantarkannya ke Tarsus.
Selama itu jemaat di seluruh Yudea, Galilea, dan Samaria menikmati masa damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan dalam penghiburan Roh Kudus; jumlahnya makin bertambah besar.
(Kisah Para Rasul 9:27–31)
Dua kali disebutkan bahwa Paulus berani berkhotbah dalam nama Yesus.
Penyampaian yang berapi-api sejalan dengan isi Injil yang ia bawa.
Namun, pesannya juga merupakan bagian dari percakapan lebih luas dengan orang Yahudi Helenistik — sebuah percakapan yang melibatkan diskusi, argumentasi, dan debat.
Penderitaan yang ia alami menegaskan komitmennya terhadap pesan itu (2 Tim 3:12).
Gereja yang diberi makan oleh khotbah-khotbah seperti ini menunjukkan realitas rohani yang mencerminkan semangat para pemberita Injil itu sendiri.
Gairah tanpa kebenaran lebih buruk daripada tidak ada apa-apa; tetapi kebenaran tanpa gairah gagal menyampaikan pesan secara utuh.
Kita juga melayani para pendengar dengan menghilangkan hambatan yang mungkin menghalangi mereka menerima khotbah kita sebagai firman Allah.
Paulus sendiri menerapkan prinsip ini (Roma 14:13).
Ia memutuskan untuk tidak menjadi batu sandungan bagi siapa pun; bahkan ia lebih memilih “menanggung segala sesuatu daripada menghalangi Injil Kristus” (1 Kor 9:12).
Hambatan seperti apa yang harus kita perhatikan?
Paulus bersedia menanggalkan kebiasaan-kebiasaan sekunder, termasuk perbedaan budaya seperti soal makanan atau perayaan keagamaan.
Entah kita suka atau tidak, jika orang tersandung karena hal yang tidak penting, semangat pelayanan menuntut kita meninggalkannya.
Sebagai contoh:
- Pakaian kita sebaiknya tidak menarik perhatian karena terlalu mewah, mencolok, atau tidak sopan.
Namun, kita juga tidak boleh mengabaikan penampilan kita. - Kebiasaan berbicara seperti sering mengucapkan “emm” dan “uh” atau kebiasaan gugup seperti berdehem terus-menerus, bisa menjadi gangguan.
- Jika suara kita tidak jelas atau tidak terdengar, orang tidak akan bisa mendengar suara Tuhan melalui kita.
Latihan vokal, termasuk bernapas dengan diafragma, mengucapkan kata dengan jelas, dan memproyeksikan suara adalah bagian dari pelayanan kepada para pendengar kita.
Tuhan, aku akui bahwa berkhotbah itu kerja keras, apalagi ketika api di dalam tulangku sudah mulai padam. Tarik aku kembali kepada-Mu dan nyalakan kembali nyala api itu, agar aku dengan sukacita memberikan diriku kepada pekerjaan yang berat namun penuh sukacita: berbicara bagi-Mu. Amin.
