“Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, dan demi kedatangan-Nya serta Kerajaan-Nya, aku berpesan kepadamu: Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan kesabaran yang besar dan dengan pengajaran yang teliti. Karena akan datang waktunya, orang tidak lagi dapat menerima ajaran yang sehat. Sebaliknya, untuk memuaskan keinginan mereka, mereka akan mengumpulkan guru-guru bagi mereka untuk mengatakan hal-hal yang ingin mereka dengar.”
(2 Timotius 4:1–3)


Kesabaran dan Ketabahan

Kesabaran juga merupakan bentuk penghormatan. Itulah sebabnya Paulus menasihati Timotius untuk memberitakan firman “dengan kesabaran yang besar” atau secara harfiah “dengan segala kesabaran” (2 Tim 4:2).

Ketika saya tidak sabar dalam percakapan, itu menyampaikan bahwa apa yang ingin saya katakan lebih penting daripada apa yang ingin Anda katakan.
Ketidaksabaran dalam berkhotbah bahkan mengandung penghinaan tersembunyi, seolah-olah pesan yang disampaikan begitu jelas dan kuat sehingga siapa pun yang cerdas hanya perlu mendengarnya sekali saja!

Padahal, Alkitab sendiri menunjukkan bahwa pengulangan itu diperlukan. Alkitab memuat banyak teks yang menyampaikan kebenaran yang sama, dan kita mendengarnya berulang kali dalam berbagai bentuk dan dari banyak orang sebelum kebenaran itu benar-benar meresap ke dalam hati kita.

Berkhotbah jauh lebih dari sekadar menyampaikan ide; itu adalah melepaskan firman agar bekerja dalam hati para pendengar kita. Kita tidak mengharapkan kebenaran langsung mengenai sasaran pada penyampaian pertama, atau langsung menjangkau setiap hati. Firman bekerja secara bertahap.


Ketabahan juga adalah cara lain untuk menunjukkan penghormatan. Roma 15:1–4 menggambarkan ketabahan dalam konteks membangun sesama melalui pengajaran Kitab Suci:

“Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan sendiri. Setiap orang di antara kita harus menyenangkan sesamanya demi kebaikannya, untuk membangunnya. Sebab Kristus juga tidak menyenangkan diri-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: ‘Cercaan orang-orang yang mencerca Engkau telah menimpa Aku.’ Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci kita memiliki pengharapan.”

Tentu saja, kita bisa saja “menanggung kelemahan orang lain” dengan sikap kesal dan jengkel terhadap kelemahan mereka. Tetapi teladan Yesus mendorong kita lebih jauh, menuju ketabahan yang serupa dengan Kristus—yang penuh kasih dan penuh harapan.

Kitab Suci—“segala sesuatu yang ditulis dahulu”—memberi kekuatan bagi Kristus untuk bertahan; demikian pula bagi kita. Dan itu juga akan menjadi sumber pengharapan bagi para pendengar kita.

Firman yang melayani kita, akan melayani melalui kita.


Jika Anda merasa sulit menghormati pendengar Anda karena Anda menganggap mereka lemah, mungkin penyebabnya adalah karena Anda belum sungguh-sungguh menyadari kelemahan Anda sendiri.
Ibrani 5:2 mengatakan bahwa setiap imam besar adalah manusia yang lemah, supaya ia dapat bersikap lembut terhadap mereka yang tidak tahu dan yang sesat. Itu adalah pola bagi kita juga, dan salah satu alasan mengapa Paulus bermegah dalam kelemahannya—sebab kuasa Allah menjadi sempurna dalam kelemahan.


Tuhan, terlalu sering aku berharap bisa menukar kelemahanku dengan kekuatan milik pengkhotbah lain. Ingatkan aku bahwa Engkau sebenarnya bisa saja menjadikanku seperti orang itu, tetapi karena alasan-Mu yang bijaksana, Engkau memilih untuk tidak melakukannya. Terima kasih karena kekuatan-Mu dapat disempurnakan dalam kelemahanku. Tolong aku agar tidak menjadikan kelemahanku sebagai alasan untuk bermalas-malasan atau tidak disiplin, tetapi jadikan itu sebagai penghiburan ketika aku telah mencurahkan jiwaku di atas mezbah demi iman orang lain, namun aku merasa bahwa itu belum menjadi persembahan yang layak. Amin.

Related Posts