“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”
(1 Korintus 1:18)
Kuasa dari Kitab Suci
Sungguh mencengangkan bahwa kita dapat mengharapkan firman Allah melakukan lebih banyak lagi dari apa yang telah kita lihat dalam Mazmur 119 dan 2 Timotius 3:16–17. Sejumlah ayat yang akan kita pelajari dalam beberapa minggu ke depan memiliki implikasi besar bagi gereja dan seharusnya menantang aspirasi Anda terhadap gereja yang Anda layani. Yakobus 1:17–18 adalah salah satu ayat tersebut. Ayat ini menyatakan bahwa Allah menggunakan “firman kebenaran” untuk melahirkan anugerah terbesar-Nya bagi kita, yaitu kelahiran baru:
“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah melahirkan kita oleh firman kebenaran, supaya kita menjadi semacam anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.”
2 Timotius 3:15 juga menyampaikan gagasan yang sama dari sudut yang berbeda. Paulus menyebut dua faktor yang seharusnya mendorong Timotius untuk terus berpegang pada apa yang telah ia pelajari — yaitu orang-orang yang telah mengajarkannya dan kuasa dari firman itu sendiri:
“…dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.”
Kitab Suci memiliki kuasa untuk membuat kita bijak menuju keselamatan. Rasul Petrus juga mengungkapkan hal yang serupa ketika berbicara mengenai kelahiran baru:
“Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari yang tidak fana, oleh firman Allah yang hidup dan yang kekal. Sebab:
‘Semua yang hidup adalah seperti rumput,
dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput;
rumput menjadi kering, dan bunga gugur,
tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.’
Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.”
(1 Petrus 1:23–25)
Firman yang diberitakan memiliki kehidupan di dalamnya, sebagaimana benih memiliki potensi hidup. Namun, benih firman Tuhan tidak seperti benih dari tanaman, hewan, atau manusia yang bisa rusak; firman itu kekal karena berasal dari Allah. Bukan pemberitaan itu sendiri yang menumbuhkan kehidupan — melainkan firman itu sendiri — tetapi pemberitaan menjadi saluran yang menanamkan firman itu ke dalam hati manusia.
Pertimbangkan juga bagaimana rasul Paulus menjelaskan asal-usul iman dalam Roma 10:12–17:
“Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab ‘barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.’ Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka dapat mendengar, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‘Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!’ Tetapi tidak semua orang telah menerima Injil itu. Yesaya berkata: ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?’ Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
(Roma 10:12–17)
Firman Kristus-lah yang memungkinkan pendengaran dan membangkitkan iman. Hal ini juga ditegaskan dalam 1 Korintus 1:21:
“Oleh karena dunia dengan hikmatnya tidak mengenal Allah dalam hikmat Allah, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.”
Sekali lagi, kita melihat bahwa firman yang diberitakan adalah sarana yang dipakai Allah untuk menyelamatkan. Dalam bagian ini, Paulus dengan sengaja mengambil posisi sebagai pemberita, bukan sebagai seorang ahli persuasi. Ia melakukan itu karena pesan yang ia sampaikan membawa kuasa untuk menyelamatkan. Pesan itu tidak memerlukan keterampilan seorang orator profesional untuk menjadi efektif; yang dibutuhkan hanyalah pemberitaan yang setia dan benar.
Terima kasih ya Tuhan, atas kuasa firman-Mu yang mengagumkan — cukup kuat untuk menghancurkan batu dalam jiwaku dan mengubahnya menjadi hati yang lembut, siap menerima lebih banyak lagi firman-Mu. Amin.
